Mengapa Ada Salat Tarawih Saat Ramadan?
Salat Tarawih adalah salat sunnah yang dikerjakan khusus pada malam-malam bulan Ramadan. Ibadah ini menjadi bagian penting dalam syiar Ramadan karena memiliki landasan kuat dari Al-Qur’an, hadis, dan praktik para sahabat.
1. Dasar Perintah Qiyam Ramadan
Secara umum, Allah memerintahkan umat Islam untuk menghidupkan malam dengan ibadah. Dalam konteks Ramadan, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa yang melaksanakan qiyam (salat malam) di bulan Ramadan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menjadi dalil utama disyariatkannya qiyam Ramadan, yang kemudian dikenal dengan istilah Tarawih.
2. Praktik Nabi Muhammad ﷺ
Pada masa Muhammad ﷺ, beliau pernah melaksanakan salat malam Ramadan secara berjamaah di masjid selama beberapa malam. Para sahabat mengikuti beliau. Namun, pada malam berikutnya, beliau tidak keluar untuk berjamaah.
Ketika ditanya, beliau menjelaskan bahwa beliau khawatir salat tersebut akan diwajibkan kepada umatnya jika terus dilakukan secara berjamaah. Ini menunjukkan bahwa:
-
Salat Tarawih disyariatkan (dianjurkan).
-
Statusnya sunnah muakkadah (sunnah yang sangat dianjurkan), bukan wajib.
3. Pengumpulan Jamaah di Masa Umar bin Khattab
Pada masa khalifah Umar bin Khattab, beliau melihat kaum Muslimin salat Tarawih sendiri-sendiri atau dalam kelompok kecil. Lalu beliau mengumpulkan mereka di bawah satu imam agar lebih tertib dan semangat.
Beliau berkata:
“Ini adalah sebaik-baik bid’ah.”
Maksud “bid’ah” di sini bukanlah bid’ah sesat, tetapi dalam arti bahasa (sesuatu yang dihidupkan kembali dalam bentuk terorganisir), karena praktik dasarnya sudah pernah dilakukan oleh Nabi ﷺ.
Sejak saat itu, Tarawih berjamaah di masjid menjadi tradisi umat Islam hingga sekarang.
4. Mengapa Disebut “Tarawih”?
Kata “Tarawih” berasal dari kata raha yang berarti istirahat. Disebut demikian karena para sahabat pada masa awal Islam melaksanakan salat dengan rakaat yang panjang dan setelah beberapa rakaat mereka beristirahat sejenak.
5. Jumlah Rakaat Tarawih
Para ulama berbeda pendapat tentang jumlah rakaat:
-
8 rakaat + 3 witir (berdasarkan praktik Nabi ﷺ dalam hadis Aisyah).
-
20 rakaat + 3 witir (berdasarkan praktik di masa Umar bin Khattab dan mayoritas sahabat).
Perbedaan ini termasuk dalam ranah ijtihad yang dibenarkan dalam Islam.
Hikmah dan Sejarah Salat Tarawih di Bulan Ramadan
Bulan Ramadan adalah bulan penuh rahmat dan ampunan. Selain diwajibkannya puasa, umat Islam juga dianjurkan untuk memperbanyak ibadah, salah satunya adalah Salat Tarawih.
Salat Tarawih merupakan salat sunnah yang dilaksanakan pada malam hari selama bulan Ramadan. Ibadah ini memiliki dasar kuat dalam ajaran Islam, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ bahwa siapa saja yang menghidupkan malam Ramadan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.
Pada masa Nabi Muhammad ﷺ, beliau pernah melaksanakan salat malam Ramadan secara berjamaah di masjid. Para sahabat mengikuti beliau dengan penuh semangat. Namun, Rasulullah ﷺ kemudian menghentikan kebiasaan berjamaah tersebut karena khawatir salat itu akan diwajibkan kepada umatnya.
Setelah wafatnya Rasulullah ﷺ, pada masa Khalifah Umar bin Khattab, umat Islam kembali dikumpulkan untuk melaksanakan Tarawih secara berjamaah dengan satu imam. Sejak saat itu, Tarawih berjamaah menjadi tradisi yang terus dijaga oleh umat Islam hingga kini.
Secara bahasa, Tarawih berarti “istirahat”, karena pada masa dahulu para sahabat beristirahat sejenak setelah beberapa rakaat akibat panjangnya bacaan salat mereka.
Di lingkungan sekolah, Salat Tarawih memiliki nilai pendidikan yang sangat penting. Ibadah ini melatih kedisiplinan, kebersamaan, kekhusyukan, serta meningkatkan keimanan dan ketakwaan peserta didik. Melalui kegiatan Tarawih berjamaah, siswa belajar tentang makna kebersamaan dalam ibadah dan pentingnya menjaga syiar Islam.
Dengan memahami sejarah dan hikmah Salat Tarawih, diharapkan seluruh warga sekolah semakin semangat menghidupkan malam-malam Ramadan dengan ibadah, membaca Al-Qur’an, serta memperbanyak doa dan amal kebaikan.
Semoga Ramadan menjadi momentum pembentukan karakter religius yang kuat bagi seluruh peserta didik dan pendidik.


